Manajemen Produksi Tanaman


Supply-Chain Management

Manajemen Rantai Pasokan

oleh

Roedhy Poerwanto

PENDAHULUAN

Pada awal abad 21 tuntutan konsumen dalam menkonsumsi pangan yang dibeli meningkat pada : keamanan, nilai gizi, cita rasa , dan ketersediaa. Konsumen semakin senang berbelanja di suoermarket yang mempunyai jaminan keamanan pangan yang lebih tinggi dibandingkan pasar tradisional. Produk olahan yang berkualitas juga mulai mudah didapatkan, dan konsumen cenderung beralih dari bahan yang awalnya harus diproses pengolahannya dalam waktu lama menjadi lebih cepat dengan adanya produk olahan yang instan .Produk-produk olahan dalam negeri sering kalah kualitasnya dengan produk olahan luar negeri (import). Adanya rantai yang panjang dari produsen ke konsumen yang bayak berbelanja di supermarket, maka keuntungan yang diterima petani kurang dari 30 % dari harga di tingkat konsumen. Pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket) mempunyai laju perkembangan yang sangat tinggi di Indonesia (Gambar 1). Masyarakat Indonesia cenderung senang berbelanja ke pasar, rata-rata kunjungan ke pasar per bulan paling tinggi jika dibandingkan negara lain (Gambar 2)

Meskipun demikian di negara berkembang ketersediaan pangan masih menjadi prioritas utama. Ketersediaan pangan ini akan tergantung pada kapasitas produksi daerah, pola distribusi, dan pola mengkonsumsinya. Menurut Undang-undang RI no 7 tahun 1996 tentang pangan mendefinisikan ketahanan pangan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau .

Gambar 1. Pangsa Penjualan Pusat Belanja Indonesia

Gambar 2. Rata-rata Kunjungan Konsumen Ke Pasar per Bulan

Oleh karena itu produk pertanian pada masa kini dan masa depan harus memenuhi kriteria : 1) aman, bebas dari cemaran, racun, pestisida, dan mikroba yang berbahaya bagi kesehatan, 2) mempunyai nilai gizi tinggi dan mengandung zat berkhasiat untuk kesehatan, 3) mempunyai mutu tinggi tidak sekedar enak, 4) tersedia dalam waktu yang tepat, 5) diproduksi dengan cara yang tidak menurunkanmutu lingkungan, 6) diproduksi dengan memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan petani dan ekerja, 7) mempunyai traceability

Konsep Modernisasi Tanaman Pangan dan Hortikultura

Konsep modernisasi tanaman pangan dan hortikultura diukur dari pemenuhan 4 faktor yang terdiri dari : 1) pemenuhan produsen, 2) pemenuhan pasar, 3) pemenuhan lingkungan, dan 4) pemenuhan social.

Pemenuhan produsen diukur dari : 1) tingkat produktivitas, dan 2) tingkat pendapatan. Sedangkan pemenuhan pasar diukur dari :1) keamanan pangan, 2)mutu yang baik, 3) suplai yang pasti, dan 4) harga yang murah. Untuk pemenuhan lingkungan harus diperhatikan dari teknologi yang digunakan yang ramah lingkungan , yaitu dengan mempertahankan mutu lingkungan yang baik. Sedangkan pemenuhan sosial diukur dari 1) tingkat jaminnan kesehatan pekerja, dan 2) tingkat kesejahteraan pekerja.

Strategi pencapaian modernisasi pertanian tanaman pangan dan hortikultura dilakukan melalui 4 cara perbaikan : 1) perbaikan sumberdaya manusia, 2) penerapan teknologi, 3) perbaikan kelembagaan, dan 4) penerapan supply chain management.

Perbaikan sumberdaya manusia dilakukan melalui : 1) penguasaan IPTEK, 2) peningkatan motivasi, 3) peningkatan persepsi , dan 4) perbaikan moral. Teknologi yang akan diterapkan menggunakan teknik GAP (Good Agricultural Practicess = Praktek Pertanian Yang Baik)), GHP (Good Handling Practicess = Praktek Penanganan Yang Baik), dan GMP (Good Manufacturing Practicess = Praktek Pengolahan Yang Baik). Demikian juga dilakukan perbaikan kelembagaan dengan melakukan konsolidasi teradap kelembagaan yang sudah ada .

Untuk menerapkan perdagangan yang adil perlu menggunakan pengelolaan dengan cara SCM (Supply Chain Managemnet). Pengelolaan SCM merupakan strategi bisnis yang mengintegrasikan secara vertical perusahaan-perusahaan dalam SC untuk meningkatkan efisiensi dan prestasi keseluruhan anggota SC agar dapat memenuhi tuntutan konsumen sehingga menjadi satu kesatuan kegiatan bisnis yang kompetitif. Kegiatan pengelolaan SCM menggunakan integrasi vertikal dari produsen sampai ke konsumen. Pada pola SCM tidak harus ada perusahaan bergabung , akan tetap yang penting fungsi rantai saling terkait. Pada saat ini jaringan pemasaran hanya berfungsi sebatas saluran tataniaga, tanpa memperhatikan kepentingan pihak lain, sehingga cenderung memperoleh keuntungan besar sendiri yang sesaat. Akhirnya terjadi produk-produk yang kuaitasnya tidak bermutu, sehigga pada saat tertentu dapat diputus rantai tataniaganya oleh pihak lain (pembeli) yang mempunyai persyaratan kualitas yang tinggi.

Dalam mewujudkan possi tawar yang tinggi agar memperoleh keadilan dalam rantai tataniaganya, maka petani perlu berkelompok dalam usaha yang dikelolanya. Kepengurusan kelomok perlu dibentuk (Ketua, Sekertaris, anggota) untuk menjalankan usaha yang dikelola bersama. Disamping pengurus juga perlu dibentuk Manager Usaha, yang digaji oleh kelompok dari keuntungan yang diperoleh dari usaha bersama. Petani di sekitar kebun percontohan dibina menjadi kelompok tani komoditas yang mengkonsolidasikan pengusahaan lahan. Selanjutnya setiap hamparan kelompok mempunyai seorang manager. Petani anggota kelompok bersama manager menerapkan SPO (Standar Prosedur Perasional). Hamparan lahan akan bergabung menjadi suatu sentra produksi dalam suatu wilayah. Pada setiap daerah sentra produksi selanjutnya dibangun suatu koperasi yang merupakan tempat usaha bersama.

Di dalam SCM akan mencakup 4 proses kegiatan : !) rangkaian proses yang terdiri dari aliran produk, aliran uang, aliran informasi, dan aliran pelayanan, 2) inyegrasi proses yang terdiri dari penyediaan, distribusi, dan konsumsi suatu produk, 3) konsumen memperoleh produk yang diinginkan dengan harga terjangkau, dan 4) produsen dan distributor memeroleh keuntungan yang sepadan.

Hubungan bisnis dapat dikelompokkan menjadi dua , yaitu : tipe transactional dan partnership. Tipe dan karakteristik hubungan bisnis yang bersifat trabsactional dan partnership dapat dilihat pada Gambar 3. Di dalam tipe partnership dapat dilihat adanya berbagai informasi, berbagai fungsi logistik dan pengembangan produk, berbagi investasi, membuat perencanaan bersama, mempunyai daya saing tinggi, dan menghasilkan nilai tambah superior untuk konsumen. Sedangkan pada transactional adalah sebaliknya.

Gambar 3. Tipe dan Karakteristik Hubungan Bisnis

Adanya dukungan teknologi teknologi yang teruji yang digunakan pada SCM, maka akan diperoleh efisiensi yang tinggi dengan berkurangnya kerusakan pasca panen dan eningkatnya produk berkualitas. Demikian pula adanya hubungan yang saling percaya dan memperhatikan semua pihak yang berperan dalam SCM, maka akan diperoleh keuntungan bagi konsumen, retail, pedagang antara, dan akhirnya bagi petani ( Gambar 4)

Gambar 4. Keuntungan dari SCM Bagi Konsumen, Retail, Pedagang dan Petani

Pada Gambar 5, 6 dan 7 ditunjukkan adanya perbedaan rantai pasokan pada kondisi tradisonal, supermarket, dan pola terbaik. Krietria penilaian ditentukan berdasarkan : keseimbangan harga versus nlai, informasi yang dibagikan, orientasi waktu, tipe hubungan antar anggota chain, interaksi antar anggota chain, ketergantungan dalam chain, power dalam chain, dan orietasi anggota chain. Penilaian dilakukan dari tingkat rendah sampai tinggi. Pasar tradisional mempunyai nilai yang lebih rendah dibandingkan lainnya berdasarkan ktiteria tersebut.

Gambar 5. Rantai Pasokan Tradisional

Gambar 6. Ranyai Pasokan Supermarket

Gambar 7. Rantai Pasokan Terbaik Saat Ini

Proses Pembentukan Pertanian Pangan dan Hortikultura Modern Melalui Pendampingan Manager

Dalam merancang pertanian modern pada tanaman pangan dan hortikultura perlu tahapan : 1) menetapkan komoditas unggulan daerah, 2) menetapkan pewilayahan komoditas, 3) menyediakan benih dan varietas anjuran komersial, 4) membangun kebun percontohan sebagai inti penerapan GAP, 5) konsolidasi pengusahaan pertanian kelmpok tani komoditas sehamparan, 6) pemilihan, pengangkatan dan pelatihan manager, 7) penyiapan sarana /lembaga/infrastruktur penunjang, pelatihan GAP, 8) pelaksanaan produksi berdasarkan GAP 9) mengembangkan rantai pasokan, 10) pelaksanaan sertifikasi, 11) promosi, 12) pelayanan informasi melalui website

Konsolidasi kelembagaan perlu dimulai sejak perancangan kebun percontohan, pembuatan rintisan kemitraan, konsolidasi pengusahaan lahan dengan penerapan GAP berdasarkan pedoman SOP (Standar Operasional Prosedur). Untuk mewujudkan melaksanaakan SOP menuju GAP akan dibantu oleh Pendamping Manajer. Selanjutnya dibentuk sentra produksi pertanian bermutu yang produknya akan disalurkan pada pasar yang bermutu. Proses Perancangan Kebun dan Pendampingan Manager dapat dilihat pada Gambar 8.

Manajer dipilih atau ditentukan bersama dengan Dinas Pertanian Kabupaten atau oleh LEMPA dengan persyaratan Sarjana Pertanian. Pendamping Manajer yang telah terpilih selanjutnya dilatih tentang GAP dan penyusunan SOP. Pendamping Manajer perlu bekerjasama dengan Dinas Pertanian dalam pelaksanakan kegiatannya di lapangan.

Fungsi atau peran Pendamping Manajer adalah : 1) bersama LEMPA menyusun SPO dengan bantuan Dinas Pertanian, Penyuluh, Pakar Daerah, BPTP, dan Perguruan Tinggi, 2) setiap kebun menerapkan SPO dengan bantuan manajer, 3) mengingatkan anggota tentang pelaksanaan SPO, 4) mencatat semua aktivitas, 5) melakukan audit internal dan menyempurnakan SPO, 5) memasarkan produk petani, 6) melakukan negosiasi dengan bank untuk membantu permodalan petani

Keterangan:

Gambar-gambar tidak bisa masuk dalam teks ini. Semua ada dalam power poin yang dibagikan.


Leave a Comment so far
Leave a comment



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s



%d bloggers like this: